Dari Monash ke Indonesia: Menguak Strategi Aktivisme Perempuan di Instagram

Pada bulan Maret 2025, Tri Kurnia Revul Andina, M.A., dosen Ilmu Komunikasi yang saat ini tengah menempuh studi doktoral (S3) di Monash University, Australia, melaksanakan kegiatan riset kolaboratif bersama sejumlah dosen dan mahasiswa di Monash. Penelitian ini mengangkat tema digital activism perempuan di media sosial Instagram, dengan fokus pada bagaimana perempuan memanfaatkan ruang digital untuk menyuarakan isu kesetaraan, identitas, serta pengalaman kolektif mereka.

Kolaborasi penelitian ini melibatkan diskusi intensif lintas disiplin antara Tri Kurnia Revul Andina, M.A. dengan para peneliti dan mahasiswa di Monash University. Kegiatan riset mencakup pengumpulan data dari akun-akun aktivisme perempuan di Instagram, pemetaan narasi visual, hingga proses analisis data menggunakan pendekatan komunikasi digital dan studi gender.

Penelitian ini berupaya memahami secara mendalam bagaimana perempuan memanfaatkan ruang digital, khususnya Instagram, sebagai arena untuk menyuarakan gagasan, memperjuangkan hak, dan membangun jejaring kolektif. Fokus utama diarahkan pada strategi komunikasi yang mereka gunakan dalam kampanye digital, termasuk bagaimana pesan disusun, dikemas, dan disebarkan agar mampu menjangkau serta menggugah audiens yang lebih luas. Dalam konteks tersebut, penggunaan elemen visual, pemilihan diksi dalam caption, dan pola interaksi dengan para pengikut dipandang sebagai bentuk perlawanan simbolik yang mencerminkan upaya perempuan menegosiasikan identitas, otoritas wacana, dan ruang ekspresi di tengah dominasi kultur patriarki.

Selain itu, penelitian ini juga menelaah dinamika solidaritas digital yang terbangun antar komunitas perempuan, baik melalui kolaborasi kampanye, dukungan timbal balik, maupun praktik berbagi pengetahuan yang memperkuat gerakan perempuan secara kolektif. Solidaritas ini memperlihatkan bagaimana media sosial berfungsi bukan hanya sebagai medium komunikasi, tetapi juga sebagai ruang afektif yang menyatukan pengalaman, aspirasi, dan resistensi bersama.

Namun demikian, kampanye digital perempuan tidak terlepas dari tantangan. Aktivis perempuan kerap berhadapan dengan komentar negatif, bias gender, serta berbagai bentuk kekerasan digital yang berupaya membungkam suara mereka. Karena itu, penelitian ini turut mengkaji bagaimana mereka merespons, mengelola, dan menavigasi tantangan tersebut untuk mempertahankan keberlanjutan gerakan dan menjaga kesehatan psikologis serta keamanan digital.

Melalui rangkaian fokus tersebut, penelitian ini berusaha memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang praktik komunikasi perempuan dalam kampanye digital serta kontribusinya terhadap penguatan gerakan perempuan di era media sosial.

Melalui proyek ini, Tri Kurnia Revul Andina, M.A. berharap dapat memperkaya literatur mengenai digital activism di Indonesia dan global, sekaligus menyoroti pentingnya ruang aman dan inklusif bagi perempuan di media sosial. Kolaborasi ini juga menjadi wadah pertukaran akademik yang produktif antara peneliti Indonesia dan Australia, terutama dalam kajian komunikasi digital dan gender.

Hasil penelitian ini direncanakan untuk dipresentasikan dalam forum akademik dan dikembangkan lebih lanjut menjadi publikasi ilmiah. Kehadiran penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi penguatan literasi digital, pemberdayaan perempuan, serta pengembangan riset komunikasi yang responsif terhadap isu-isu kontemporer dalam masyarakat digital.