Menguatkan Narasi "Islam Adil Gender", Departemen Ilmu Komunikasi UNY Selenggarakan FGD Bersama Swara Rahima

Islam pada dasarnya mengajarkan nilai-nilai keadilan gender. Namun dalam praktiknya, berbagai bentuk bias gender masih ditemukan di beragam ruang kehidupan, termasuk dalam ruang digital. Fenomena tersebut tampak dari beredarnya berbagai konten yang mereproduksi ketimpangan gender, bahkan tidak jarang dibingkai dengan legitimasi keagamaan. Menanggapi kondisi tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Yogyakarta menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bersama komunitas Swara Rahima pada 25 Mei 2026. Kegiatan ini diinisiasi oleh dosen dari Departemen Ilmu Komunikasi (Dr. Awanis Akalili, M.A. dan Syarifah Nur Aini, M.A. ), Program Studi Pendidikan Agama Islam (Dr. Ayu Usada Rengkaningtias, M.Sos.), dan Program Studi Pendidikan Sejarah (Septian Teguh Wijiyanto, M.Pd.) FISIP UNY.

Tim PkM memandang media sosial sebagai arena kontestasi berbagai wacana yang saling bersaing dalam membentuk pemahaman publik. Dalam konteks tersebut, kehadiran media alternatif yang dikelola oleh komunitas dan aktivis gender menjadi penting sebagai ruang penyebaran perspektif yang lebih inklusif. Ketua tim pengabdi, Dr. Awanis Akalili, M.A., menjelaskan bahwa diskusi ini bertujuan menelaah bagaimana Swara Rahima merepresentasikan narasi Islam berkeadilan gender di tengah beragamnya wacana yang berkembang di ruang digital. 

Sebagai komunitas yang berfokus pada isu gender dari perspektif keislaman, Swara Rahima meyakini bahwa Islam menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan. Direktur Swara Rahima, Pera Soparianti, M.Hum., menegaskan bahwa perempuan merupakan manusia seutuhnya yang memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial. Perempuan tidak hanya dipahami melalui peran domestik maupun fungsi biologisnya, tetapi juga sebagai individu yang memiliki kapasitas intelektual, spiritual, dan sosial untuk berkontribusi dalam masyarakat. Oleh karena itu, Swara Rahima mengedepankan suara serta perspektif ulama perempuan dalam berbagai aktivitas kampanyenya.

Dalam berbagai kontennya, Swara Rahima menegaskan bahwa pengalaman biologis perempuan bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari fitrah yang perlu dipahami secara empatik dan dihargai. Narasi yang dibangun menempatkan perempuan sebagai individu yang utuh, merdeka, dan bermartabat, bukan sekadar objek dalam sistem patriarki. Melalui FGD ini terungkap bahwa Instagram menjadi platform yang dinilai efektif untuk menyebarluaskan pesan tersebut karena didukung karakter visual dan audio yang kuat. Berbagai fitur seperti ilustrasi, video pendek, carousel, dan reels memungkinkan narasi Islam berkeadilan gender serta kritik terhadap patriarki disampaikan secara lebih menarik dan dekat dengan generasi muda.